Bisnis

Tinggal di Desa Gelap Gulita, Mahasiswa RI Ini Terpecut Pelajari Energi Nuklir di Rusia

Asosiasi Nuklir Dunia menyatakan jika masyarakat dunia membutuhkan semua sumber energi bersih, termasuk nuklir. Bahkan pembangkit energi nukir tumbuh pada tingkat tercepat dalam 25 tahun.

Ini juga terjadi di negara-negara yang baru saja mengembangkan tenaga nuklir untuk pertama kalinya seperti di UAE, Turki, Belarusia, dan Bangladesh.

Bahkan, dia menyatakan jika dunia perlu membangun 1.000 Gigawatt reaktor nuklir baru untuk memenuhi permintaan energi global pada 2025. Sampai periode ini, sebesar 25 persen pasokan listrik dunia akan dipasok dari pembangkit nuklir.

“Apa yang ingin dilakukan Program Harmony adalah meningkatkan lingkungan bisnis untuk memungkinkan nuklir memainkan peran sepenuhnya dengan memperhatikan secara ekonomi, menciptakan paradigma keselamatan yang efektif dan memastikan proses regulasi yang selaras,” jelas Penasihat Program Harmoni Asosiasi Nuklir Dunia (WNA) Jeremy Gordon pada acara International Forum Atomexpo 2018 di Sochi, Rusia, Selasa (15/5/2018).

Dia mengatakan jika tenaga nuklir tumbuh pada laju tercepat dalam 25 tahun terakhir dan permintaan listrik meningkat. Sebab itu, sektor energi masih berjuang untuk memenuhi permintaan.

Meskipun percepatan pertumbuhan kapasitas energi nuklir, pangsa energi nuklir dari pasar energi global telah menurun dari 14 persen menjadi 10 persen.

Padahal jika pangsa energi nuklir dari pasar listrik meningkat menjadi 25 persen pada 2050, bisa menyeimbangkan kebutuhan yang semakin meluas dengan lingkungan alam, sambil membantu pengenalan teknologi rendah karbon lainnya.

“Peningkatan pangsa dari semua sumber energi rendah karbon, serta sangat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, dapat bekerja bersama secara harmonis untuk memastikan pasokan energi masa depan yang dapat diandalkan, terjangkau dan bersih,” ia berpendapat.

Menurut dia, perlu adanya perubahan diperlukan di setiap aspek sektor tenaga nuklir untuk menghilangkan hambatan. Dengan mendorong investasi energi bersih masa depan, di mana energi nuklir diperlakukan sama dengan teknologi rendah karbon lainnya dan diakui karena memiliki nilai yang dapat diandalkan, merupakan kunci dari bauran energi rendah karbon.

Dia menambahkan bahwa penting untuk memastikan proses pembangunan satu pembangkit selaras yang bisa memfasilitasi pertumbuhan kapasitas nuklir yang signifikan, tanpa mengorbankan keselamatan dan keamanan.

“Proses nuklir yang harmonis berarti bahwa, jika Anda membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di satu negara, Anda harus dapat membangun pembangkit listrik yang sama di negara lain dengan dokumen minimum,” jelasnya.

Dia lebih lanjut berkomentar bahwa penting untuk menciptakan paradigma keselamatan yang efektif yang berfokus pada kesejahteraan publik. Ini seperti pada manfaat kesehatan, lingkungan dan keselamatan.

Dia menyebutkan ada hal yang harus diperhatikan dua fundamental mendasar bila ingin membangun pembangkit nuklir.

Pertama, soal keamanan dan kedua masalah penerimaann di masyarakat. “Tanpa keduanya pembangkit energi nuklir tidak akan bisa beroperasi. Sebab itu kita harus fokus pada dua hal ini,” jelas dia.

Hal senada diungkapkan Direktur Jenderal Asosiasi Nuklir Dunia Agneta Rising yang mengatakan jika keberadaan pembangkit nuklir baru bisa membantu membangun bauran energi global yang berkelanjutan, mengurangi emisi dan memenuhi permintaan listrik.

Menurut dia, mengatakan energi nuklir memiliki peran penting untuk bermain dalam bauran energi global, memberikan fondasi yang kuat dari generasi yang dapat diandalkan dan rendah karbon untuk membantu mendukung lebih banyak variabel pembangkit energi bersih.

“Dalam lima tahun dari 2015 hingga 2019 kita melihat 55 reaktor baru dimulai di 12 negara, dua dari negara-negara yang baru memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir pertama mereka. Dengan kapasitas gabungan 55 GWe generasi nuklir baru ini akan menghindari emisi lebih dari 400 juta ton karbon dioksida setiap tahun, dibandingkan dengan batu bara, setara dengan 15 persen ke pasokan ke global,” jelas dia.

Source


Show More

Related Articles

Close