Dunia

Netanyahu kepada Trump: Iran Harus Dihentikan

Peningkatan kehadiran pasukan Iran di Suriah yang mendukung Presiden Bashar al-Assad, dan kekhawatiran bahwa Iran sedang mencari pangkalan yang permanen di Suriah, dibahas hari Selasa (6/3) antara Presiden Amerika Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Perdana Menteri Israel mengatakan dengan tegas, ketika duduk di samping presiden Amerika, Iran adalah ancaman terbesar di Timur Tengah. Ia menuduh Iran melakukan “agresi di mana-mana” dan – meskipun ada kesepakatan internasional tiga tahun yang lalu – tidak menghentikan ambisi nuklirnya.

“Iran harus dihentikan. Itu adalah tantangan bersama kita,” tandas Netanyahu.

Kemungkinan perang antara Israel dan Iran belakangan ini mulai mengkhawatirkan para pejabat dan analis di Washington dan tempat – tempat lain.

“Iran menunjukkan niat mereka sebenarnya dengan meningkatkan kemampuan mereka, apakah itu sistem – sistem roket atau kemampuan untuk mengerahkan milisi dari Irak ke Syria dan ke Lebanon, kalau perlu,” ulas Michael Pregent.

Presiden Trump hari Senin tidak menyebut Iran atau Suriah. Tetapi dia mengatakan Israel dan Amerika bekerja sangat erat dalam masalah pertahanan dan melawan teroris di wilayah itu. Dia juga mengungkapkan keyakinan bahwa pemerintahannya dapat mempertemukan Israel dan Palestina untuk perundingan damai.

“Ini adalah kesepakatan paling sulit, yang telah berlangsung bertahun-tahun, penuh oposisi dan kebencian, dan banyak hal lagi yang terkait untuk mencapai kesepakatan ini, selain masalah tanah dan perbatasan,” kata Trump.

Presiden juga mengatakan kepada wartawan bahwa dia mungkin akan segera pergi ke Yerusalem untuk secara resmi membuka Kedutaan Amerika Serikat di sana – suatu langkah kontroversial untuk memindahkan kedutaan amerika dari dari Tel Aviv yang kata Netanyahu kepada Trump, “akan diingat oleh orang-orang Yahudi “sepanjang masa”. [sp]

Source


Show More

Related Articles

Close