Bisnis

Bank Dunia Targetkan Akhiri Kemiskinan Ekstrem pada 2030

Sebelumnya, subjek tentang ketidaksetaraan (inequality) menjadi yang utama dibahas dalam Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 di Bali. Isu itu disorot karena meski dunia makin sejahtera, tetapi banyak orang yang tidak ikut merasakannya.

Fakta itu disampaikan langsung Direktur Pelaksanan IMF Christine Lagarde dalam pidatonya, Jumat 12 Oktober 2018. Presiden Joko Widodo dan delegasi 189 negara turut menyimak.

“Walaupun kerja sama dagang telah mendorong periode pertumbuhan dan kesejahteraan yang belum pernah dialami dalam 70 tahun terakhir, hal itu sekarang menghadapi cambukan balik, di antaranya banyak orang yang ditinggalkan (dalam pertumbuhan ekonomi),” ucap Lagarde.

Penelitian IMF menunjukkan bahwa ketidaksetaraan berkaitan dengan munculnya kaum marjinal, dan memiliki efek pada hidup kemasyarakatan dan kepercayaan. “Maka tak aneh banyak orang merasa marah dan terpinggirkan,” ucap Lagarde.

Dalam upaya menangkal masalah ketidaksetaraan, IMF mengajak lebih banyak kerja sama dalam pemerintahan, sektor privat, dan warga sipil.

“Agar menumpas diskriminasi terhadap wanita, merancang reformasi pasar tenaga kerja, dan memperkuat pendidikan, pelatihan, dan sistem perlindungan sosial.”

Lagarde menekankan betapa pentingnya kebijakan yang berpusat pada manusia. Ucapan Bos IMF itu senada dengan pesan Bos Bank Dunia terkait modal sumber daya manusia (SDM)

“Libatkan orang, bukan malah menyingkirkan mereka, dan persiapkan mereka untuk tranformasi teknologi,” pungkas Lagarde.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Gubernur Bali I Wayan Koster menjamin pertemuan tahunan IMF-World Bank Group memberikan dampak positif bagi Indonesia khususnya Bali.

Source


Show More

Related Articles

Close